PLEASE VISIT :
BATIK KHASANDY
there are a lot of Batik materials waiting for you, from Batik Cap until Batik Tulis with Natural Dyer.

Wednesday, July 2, 2014

Investasi Butuh Dana Besar? Siapa Bilang?

Beberapa bulan belakangan, saya sering banget nongkrongin Thread di FemaleDaily : Investasi  Reksadana di Sub-Thread Money & Talks. Dari awal mulanya bingung, sampai akhirnya keasikan dan berhasil keracunan member FD lain dari thread ini. Untungnya keracunannya membawa manfaat ya, jadi belajar berinvestasi hehehe.

Yang mau saya share kali ini adalah tentang IpotFund. IpotFund sendiri dibentuk oleh Indo Premier, dimana apabila kita bergabung dengan IpotFund, maka semua reksadana yang kita beli disini FREE SUBSCRIPTION IN/OUT* alias gratis (*selama dijual setelah lebih dari 1 tahun). Konsepnya hampir mirip dengan beberapa bank, hanya saja semua reksadana yang ditawarkan di IpotFund ini benar-benar free dan bisa dibeli dalam jumlah yang sangat murah, yakni mulai dari Rp 100.000,- saja.

Karena penasaran, langsung latah buka IpotFund.com dan daftar. Nggak lama kemudian dihubungi dong sama orang dari IpotFund (IF). Kepalang basah, akhirnya saya bilang dokumen bisa dipick-up awal minggu depan. Yap, dokumen asli yang sudah ditandatangan dan bermeterai tidak perlu kita serahkan langsung. Tinggal mengajukan service pick-up dokumen, nanti kurir dari IF akan ‘menjemput’ aplikasi kita.

Beberapa hari setelah penjemputan aplikasi, saya dapat email mengenai SID & SRE yang sudah aktif. Agak bingung, saya langsung menghubungi Customer Service IF. SID & SRE ini semacam Identification Number yang disyaratkan oleh OJK, dimana setiap investor baik pribadi maupun badan usaha wajib memiliki nomor ini. Nah, saya tanya lagi, sudah bisa transaksikah apabila SID & SRE sudah diperoleh? Ternyata belum, karena sebelum bertransaksi kita membutuhkan RDI (Rekening Dana Investor) yang akan jadi beberapa hari setelah SID & SRE jadi. Konsepnya sih RDI ini semacam rekening baru atas nama diri kita sendiri, yang mana setiap kita transfer ke rekening RDI ini, akan langsung diasosiasikan kepada rekening dana investasi tersedia kita di IpotFund.

RDI saya jadi kira-kira 2 hari setelah SID & SRE jadi. Seneng dan semangat banget! Langsung transfer 100 ribu ke RDI tersebut deh, dan Cuma tinggak klak klik klak klik langsung deh terbeli Reksadana yang saya mau. Gampang banget! Cuma yang harus diperhatikan sebelumnya, cek ulang apakah Manajer Investasi yang termasuk dalam List IpotFund adalah manajer investasi tujuan kamu, karena belum semua manajer investasi bergabung di IpotFund ini.

Anyway, ini bukan post berbayar yaaa..
Happy Investing!


 

Tuesday in Love : Halal Nail Polish

Anyone heard about these new nail polish?


Tuesday In Love Water Permeable Nail Polish is new nail polished made by Canadian makeup company, that using polymer in its nail polish' formula, that allows water molecules penetrate into our nails. 



Stated in their website :
A revolutionary polymer that allows water molecules to penetrate through micro pores.
Easy to peel and remove without the use of harsh chemicals or nail polish remover.
Does not contain any formaldehyde, toluene, dibutyl phthalate (DBP), or camphor.




Yes!
You don't even need any remover to remove this nail polish. Its even peelable! How great is that?



Some blogger abroad (and some researches) said that this nail polish is certified as Halal Nail Polish. Yes, Halal as you can wear it during your wudhu and prayer. I haven't conduct any experiment about this, but you can do it by yourself just like she did!

credited to :

More About This Nail Polish :

You Can Buy It Here :

Thankiess!

Tuesday, January 14, 2014

Insurance : Finding The Right One

Few days ago, a friend sent me some line messages asking about wether i had found and picked the right insurance for myself. She asked me that question because she read my article about Insurance in MommiesDaily.com few months ago. 

Di artikel tersebut saya menyebutkan bahwa asuransi seharusnya dibuat dan disusun terpisah dengan investasi, karena yang namanya investasi akan lebih maksimal dong apabila dimanage sendirian, tanpa harus memperhitungkan biaya asuransi, karena asuransi sendiri kan tidak mahal. Awal mula saya mencari asuransi tersebut adalah ketika Mas Suami belum memiliki asuransi (dan tabungan, thanks to me Istri Boros) kecuali Askes yang diberikan oleh Kantor. Tadinya saya mengusulkan supaya Mas Suami ambil investasi murni saja melalui instrumen Reksadana. Jumlahnya memang nggak seberapa besar tetapi kalau tujuannya buat jangka panjang (InsyaAllah) bisa buat bayar sekolah anak-anak kami (nantinya, berhubung sekarang belum diberikan anak :P). Tetapi berhubung fasilitas Askes dari kantor tidak bisa mengcover kebutuhan kami (nantinya apabila ada sesuatu, semoga tidak sih!), mau tidak mau Mas Suami harus ambil asuransi. 

Sayangnya Mas Suami ini quite conservative. Dia nggak mau dan nggak berani kalau harus membeli asuransi murni yang nantinya uangnya akan hilang kalau tidak kami claim (padahal harapannya kan tidak ada yang sakit?). Dia lebih memilih mengambil Asuransi yang ada nilai investasinya, karena uang yang kami taruh di asuransi tersebut nggak akan hilang walaupun kami nggak claim apapun selama kami menjadi client.

Bagaimana dengan saya sendiri? 

Awalnya sih saya mengambil asuransi murni dari perusahaan asuransi yang cukup ternama, yang waktu itu tawarannya saya dapatkan melalui seorang telemarketer. Biayanya nggak terlalu besar sih, sekitar Rp 139,500,- setiap bulannya, yang akan didebet dari Kartu Kredit saya dengan salah satu fasilitasnya ialah santunan harian Rp 400,000,- per hari apabila saya masuk rumah sakit. Berhubung saat itu saya sedang giat-giatnya mencari asuransi kesehatan yang murni, saya langsung mengiyakan tawaran itu. 

Tidak lama setelah itu, saya ambil 1 asuransi lagi yang kali ini merupakan unitlink, dimana ada nilai investasinya, tetapi nilai tunjangan kesehatannya tidak terlalu besar, sehingga nantinya dalam 10 tahun nilai investasi saya akan meningkat sekitar 10-20%. Alasan saya mengambil ini semata-mata karena mengejar tunjangan kesehatan yang mungkin tidak saya dapatkan sekaligus untuk menabung (apabila saya resign dari pekerjaan saya sekarang). Well, we never know what are going to happen in the future, right? 

Walaupun begitu, saya agak menyesal sih mengiyakan tawaran telemarketer untuk membuka asuransi kesehatan murni. Pasalnya setelah ngobrol dengan teman saya tersebut, saya baru tahu ada asuransi kesehatan murni yang nilainya jauuh lebih murah dari asuransi yang saya sudah ambil, dengan fasilitas yang jauh jauh jauh lebih menguntungkan! 

So, you better googling more and more before you decided something! And do not trust a telemarketer before you do some research about the product they promoted. Selain karena mungkin ada pilihan yang lebih baik, mengurus claim asuransi tanpa ada "agen" yang kamu kenal itu jauuh lebih susah daripada proses joinnya. 
Related Posts with Thumbnails